Inilah Akidah Imam Syafi’i Rahimahullah

1246

INILAH AKIDAH IMAM SYAFI’I RAHIMAHULLAH

Banyak yang mengaku Syafi’iyah , namun tidak mengikuti aqidah imamnya ?!?

Semoga Allah merahmati al-Imam Abu Muẓaffar al-Sam‘ani ketika mengatakan, “Tidak pantas bagi seorang untuk membela mazhab al-Syafi‘i dalam masalah fikih tetapi tidak mengikutinya dalam masalah usul (pokok-pokok akidah).”

📗 (al-Intiṣar li Aṣḥāb al-Ḥadīṡ hlm. 9)

قال الشافعي في كتابه الرسالة: والحمد لله… الذي هو كما وصف به نفسه، وفوق ما يصفه به خلقه.

✍ Imam Syafi’i mengatakan: “Segala puji bagi Alloh… yang Dia itu sebagaimana disifati sendiri oleh-Nya, dan lebih agung dari sifat yang diberikan oleh para makhluknya”.
📗(Ar-Risalah, hal:7-8)

عن الشافعي أنه قال: القول في السنة التي أنا عليها، ورأيت أصحابنا عليها، أهل الحديث الذين رأيتهم، وأخذت عنهم مثل سفيان، ومالك، وغيرهما: الإقرار بشهادة أن لا إله إلا الله، وأن محمداً رسول الله، وأن اللهَ تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء، وأن الله تعالى ينزل إلى سماء الدنيا كيف شاء.

✍ Imam Syafi’i mengatakan: Perkataan dalam sunnah yang aku berjalan di atasnya, dan aku lihat para sahabat kami juga berjalan di atasnya, -yakni para ahlul hadits yang ku temui dan ku ambil ilmu dari mereka, seperti Sufyan Ats-Tsauri, Malik, yang lainnya-, adalah: Berikrar dengan persaksian bahwa tiada sesembahan yang berhak disembah selain Alloh, sesungguhnya Muhammad itu Rosululloh, sesungguhnya Alloh itu diatas arsy-Nya, di atas langit-Nya, Dia mendekat kepada makhluknya bagaiamanapun Dia kehendaki, dan Alloh juga turun ke langit dunia sesuai kehendaknya. (Ijtima’ul juyusyil islamiyah libnil qoyyim, hal: 165. Itsbatu Shifatil Uluw, hal:124. Majmu’ul Fatawa 4/181-183. Al-Uluw lidz Dzahabi, hal: 120. Mukhtashorul Uluw lil Albani, hal: 176)

 عن الشافعي أنه قال: نثبت هذه الصفات التي جاء بها القرآن، ووردت بها السنة، وننفي التشبيه عنه، كما نفى عن نفسه، فقال: { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ} [سورة الشورى: 11]
✍ Imam Syafi’i mengatakan: “Kami menetapkan sifat-sifat yang disebutkan dalam Alqur’an dan Sunnah ini, tapi kami menafikan tasybih dari-Nya, sebagaimana Dia sendiri menafikan hal itu dari-Nya, Dia berfirman: ‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya’ (Surat Asy-Syuro:11)

📗(Lihat Kitab Assiyar lidz Dzahabi 20/341)

وفي جزء الاعتقاد المنسوب للشافعي – من رواية أبي طالب العُشاري – ما نصه قال: وقد سئل عن صفات الله عزَّ وجلَّ، وما ينبغي أن يؤمن به، فقال: للهِ تبارك وتعالى أسماء وصفات، جاء بها كتابه وخبَّر بها نبيه – صلى الله عليه وسلم – أمته، لا يسع أحداً من خلق الله عزَّ وجلَّ قامت لديه الحجَّة أن القرآن نزل به، وصحَّ عنده قول النبي – صلى الله عليه وسلم – فيما روى عنه العدلُ خلافَه، فإن خالف ذلك بعد ثبوت الحجَّة عليه، فهو كافر بالله عزَّ وجلَّ. فأما قبل ثبوت الحجة عليه من جهة الخبر؛ فمعذور بالجهل؛ لأن علم ذلك لا يدرك بالعقل، ولا بالدراية والفكر.

ونحو ذلك إخبار الله عزَّ وجلَّ أنه سميع وأن له يدين بقوله عزَّ وجلَّ: {بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ} [سورة المائدة: الآية 64] وأن له يميناً بقوله عزَّ وجلَّ: {وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ} [سورة الزمر: الآية 67] وأن له وجهاً بقوله عزَّ وجلَّ: {كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ} [سورة القصص: الآية 88] وقوله: {وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ} [سورة الرحمن: الآية 27]

وأن له قدماً بقوله – صلى الله عليه وسلم: “حتى يضع الرب عزَّ وجلَّ فيها قدَمه.” يعني جهنم؛ لقوله – صلى الله عليه وسلم – للذي قُتِل في سبيل الله عزَّ وجلَّ أنه: “لقي الله عزَّ وجلَّ وهو يضحك إليه.” وأنه يهبط كل ليلة إلى السماء الدنيا، بخبر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بذلك، وأنه ليس بأعور لقوله النبي – صلى الله عليه وسلم – إذ ذكر الدجال فقال: “إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور”، وأن المؤمنين يرون ربهم عزَّ وجلَّ يوم القيامة بأبصارهم كما يرون القمر ليلة البدر، وأن له إصبعاً بقوله – صلى الله عليه وسلم: “ما من قلب إلاَّ هو بين إصبعين من أصابع الرحمن عزَّ وجلَّ”

وإن هذه المعاني التي وصف الله عزَّ وجلَّ بها نفسه، ووصفه بها رسول الله – صلى الله عليه وسلم – لا تُدرَك حقيقتها تلك بالفكر والدراية، ولا يكفر بجهلها أحد إلا بعد انتهاء الخبر إليه به، وإن كان الوارد بذلك خبراً يقوم في الفهم مقام المشاهدة في السَّماع؛ وجبت الدينونة على سامعه بحقيقته والشهادة عليه، كما عاين وسمع من رسول الله – صلى الله عليه وسلم، ولكن نثبت هذه الصفات، وننفي التشبيه كما نفى ذلك عن نفسه تعالى ذكره فقال: { لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ} [سورة الشورى: الآية 11]… إلى آخر الاعتقاد.

✍ Dalam Kitab Juz’ul I’tiqod, yang disandarkan kepada Imam Syafii, dari riwayatnya Abu Tholib al-Usyari, dikatakan : Beliau pernah ditanya tentang sifat-sifat Alloh azza wajall dan apa yang seyogyanya diimani?. Maka beliau menjawab: “Alloh tabaroka wata’ala memiliki banyak nama dan sifat, yang datang dalam kitab-Nya dan dikabarkan Nabi-Nya -shollallohu alaihi wasallam- kepada umatnya.

✍ Tidak boleh seorang pun -dari makhluk Alloh azza wajall yang telah tegak baginya hujjah dari Alqur’an yang turun kepadanya, dan sabda Nabi shollallohu alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh perowi yang adil- menyelisihinya. Apabila ia menyelisihinya setelah tegaknya hujjah atasnya, maka ia termasuk orang yang kafir kepada Alloh azza wajall. Adapun apabila ia menyelisihinya sebelum tegaknya hujjah atasnya dari sisi nash, maka ia diberikan udzur karena kebodohannya, karena pengetahuan tentang itu tidak mungkin dinalar dengan akal, tidak mungkin pula diperoleh dengan mempelajari dan merenunginya.

Diantara contoh hal tersebut adalah:

📌 Kabar dari Alloh bahwa Dia maha mendengar.
📌Bahwa dia memiliki dua tangan, sebagaimana firman-Nya: “Akan tetapi kedua tangan Alloh itu terbuka” (Al-Maidah:64).
📌Bahwa Dia memiliki tangan kanan, sebagaimana firman-Nya: “Dan langit-langit itu digulung dengan tangan kanan-Nya” (Az-Zumar:67).
📌Bahwa Dia memiliki wajah, sebagaimana firman-Nya:

📖 “Segala sesuatu pasti binasa kecuali wajah-Nya” (Al Qoshosh : 88) dan juga firman-Nya:
📖 “Tetapi wajah Tuhanmu yang memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal” (Ar-Rohman:27).

📌Bahwa Dia memiliki kaki, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-: “Sehingga Tuhan azza wajall meletakkan kaki-Nya di dalam Jahannam”.
📌Bahwa Dia tertawa, sebagaimana sabdanya tentang orang yang gugur di jalan Alloh bahwa ia akan menemui Alloh azza wajall, dalam keadaan Dia tertawa padanya”.
📌Bahwa Dia turun ke langit dunia setiap malam, dengan dasar kabar dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.
📌 Bahwa Dia tidak buta sebelah, sebagaimana sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam- ketika menyebut Dajjal: “Sesungguhnya Dajjal itu buta sebelah, sedang Tuhanku tidaklah buta sebelah”.
📌Bahwa sesungguhnya kaum mukminin akan melihat Tuhannya pada hari kiamat dengan mata mereka, sebagaimana mereka melihat bulan purnama.
📌Bahwa Dia memiliki jari, sebagaimana sabdanya: “Tiada hati, melainkan ia berada diantara dua jari dari jari-jarinya Yang maha pengasih”.

✍ Sungguh makna dari sifat-sifat yang diberikan Alloh sendiri pada diri-Nya, dan juga diterangkan oleh Rosul-Nya -shollallohu alaihi wasallam- tidak akan diketahui hakekatnya dengan merenungi dan mempelajarinya, dan seseorang tidak dikafirkan karena tidak mengetahuinya kecuali setelah datang kepadanya nash tentang itu.

✍ Apabila kabar yang menerangkan hal itu dari sisi pemahaman bisa mewakili persaksian dalam pendengaran, maka hal itu wajib dipersaksikan dan diamalkan secara hakiki sebagai agama oleh orang yang mendengarnya, seakan ia menyaksikan dan mendengarnya langsung dari Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam-.

✍ Tapi ketika kita menetapkan sifat-sifat ini, kita juga menafikan tasybih (penyerupaan Alloh dengan makhluk-Nya), sebagaimana Alloh nafikan hal itu dari diri-Nya dalam firman-Nya: “Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, dan Dia maha mendengar lagi maha melihat” (Asy-Syuro:11)…

📗(lihat kitab Dzammut Ta’wil libni Qudamah, hal:124. At-Thobaqot libni Abi Ya’la 1/283. Ijtima’ul Juyusy Islamiyah libnil Qoyyim, hal:165. As-Siyar lidz Dzahabi 10/79).

وبالله التوفيق

📁 https://addariny.wordpress.com/2009/11/03/akidah-imam-syafii-rohimahulloh/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here