Kumpulan Tanya Jawab Ramadhan Edisi 5 & 6

662

📚   KUMPULAN TANYA JAWAB RAMADHAN  ◎❅{  EDISI – 5 }❅◎

📜 Puasanya Wanita Hamil dan Menyusui

Pertanyaan❓

(1). Assalamualaikum…ustadz, mw tanya bgmn hukumnya puasa ramadhan utk wanita yg sedang menyusui?

(2). Maaf bertanya ; wanita menyusui cukup fidyah atau mengganti puasa dan fidyah.berapa ukuran memberi makan untk fidyah?

Jawaban ✅

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

*Wanita hamil dan menyusui yang tidak mampu puasa dan lemah boleh berbuka dan menebusnya dengan (fidyah) memberi makan seorang miskin tiap harinya,* dan *keduanya tidak wajib mengqadha*.Akan tetapi, jika tidak membawa dampak bahaya apa-apa pada diri dan anak, maka lebih baik ia berpuasa, dan pada kondisi ini tidak boleh ia tidak berpuasa.

Karena berdasarkan pendapat yg Rojih (kuat dan benar) di kalangan para ulama bahwa wanita hamil  dan menyusui yang mengkhawatirkan keselamatan dan kesehatan janin dan anak susuannya *BOLEH untuk TIDAK PUASA di bulan Romadhon, dan ia hanya berkewajiban membayar fidyah kepada orang faqir miskin, dan *Tidak Wajib meng-Qodho’* (melunasi utang) puasanya.

Ibnu `Abbas -radhiyallahu `anhu- menyuruh wanita hamil untuk berbuka dengan berkata:

أَنْتِ بِمَنْزِلَةِ الْكَبِيرِ لَا يُطِيقُ الصِّيَامَ، فَأَفْطِرِي، وَأَطْعِمِي عَنْ كُلِّ يَوْمٍ نِصْفَ صَاعٍ مِنْ حِنْطَةٍ

“Kondisi kamu (perempuan) sama dengan kondisi orang tua renta yang tak mampu lagi berpuasa, maka berbukalah dan berilah makan seorang miskin tiap harinya setengah sha’ dari gandum.”

[Sanadnya shahih: Hadits Riwayat: Abdurrazzaq (7567), Ad-Daruquthniy (2/206)]

📋 Dari Nafi’ berkata: “Anak perempuan Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- hamil oleh suaminya dari Quraisy. Suatu saat ia kehausan di bulan Ramadhan. Kemudian Ibnu `Umar -radhiyallahu `anhu- menyuruhnya berbuka dan memberi makan seorang miskin setiap harinya.”

[Hadits Shahih, Riwayat: Ad-Daruquthniy,  II, h 207.  Al-Irwa’ ,  IV, h20]

🔖 Telah diketahui juga bahwa Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dikenal sebagai salah seorang shahabat yang sangat besar semangat itttiba’-nya terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Sebailknya, tidak diketahui satu pun shahabat yang menyelisihi mereka berdua dalam permasalahan ini, sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudaamah :

ولا مخالف لهما في الصحابة

“Tidak ada shahabat yang menyelisihi mereka berdua (Ibnu ‘Abbaas dan Ibnu ‘Umar)” [Al-Mughniy fil-Fiqh 3/140 – melalui perantaraan At-Tarjiih, hal. 60].

🔰 Inilah pendapat yang raajih yang diambil Sa’iid bin Jubair, Ishaaq bin Rahawaih, Al-Qaasim bin Muhammad, dan sekelompok ulama lainnya. Al-Albaaniy, ‘Aliy Al-Halabiy, Saliim Al-Hilaaliy, Muhammad Bazmuul, dan Abu Maalik Kamaal adalah di antara ulama kontemporer yang kami ketahui sebaris dengan mereka.

📮 Walaupun begitu, tidak selayaknya bagi wanita yang mengandung dan menyusui untuk bermudah-mudah dalam masalah ini. Khususnya, mereka yang tidak merasa berat untuk berpuasa; hendaknya ia tetap (mencoba) berpuasa. Orang yang mampu mengerjakan puasa adalah lebih baik daripada yang tidak melakukannya, sebab ia telah mengerjakan asal kewajiban yang diperintahkan syari’at. Hal ini sesuai dengan keumuman firman Allah ta’ala :

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 184].

Bagi yang ingin mengetahui dalil  dan hujjah yang lebih rinci dalam masalah ini bisa diantaranya melihat pada link berikut ini :

🔖https://firanda.com/index.php/konsultasi/fiqh/49-kewajiban-fidyah-bagi-wanita-hamil-dan-wanita-menyusui

🔖http://abul-jauzaa.blogspot.ae/2010/08/puasa-bagi-wanita-hamil-dan-menyusui-di.html?m=1

➡ Cara Membayar Fidyah:

📌Pertama: Membagi bahan makanan mentah kepada orang-orang miskin, untuk setiap satu hari puasa yang ditinggalkan memberi makan satu orang miskin, sebanyak 1/2 sho’ (senilai kurang lebih 1,5 kg) bahan makanan pokok di negerinya. Nilai ½ sho’, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam,

لِكُلِّ مِسْكِينٍ نِصْفَ صَاعٍ

“Setiap satu orang miskin setengah sho’.”

[HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Ka’ab bin ‘Ujroh radhiyallahu’anhu]

📌Kedua: Menyiapkan makanan jadi dan memberikannya kepada orang-orang miskin, setiap satu porsi untuk satu hari puasa, sebagaimana yang dilakukan Sahabat yang Mulia Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,

فَقَدْ أَطْعَمَ أَنَسٌ بَعْدَ مَا كَبِرَ عَامًا أَوْ عَامَيْنِ، كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا، خُبْزًا وَلَحْمًا

“Anas bin Malik ketika telah tua, beliau memberi makan selama satu atau dua tahun, setiap satu hari puasa satu orang miskin, roti dan daging.”
[Riwayat Al-Bukhari]

📌Fidyah boleh diberikan di awal, tengah dan Akhir Ramadhan.

Catatan:

Pembayaran Fidyah terhadap Puasa yang Belum Ditinggalkan tidak boleh dibayar di muka.

Membayar fidyah sebelum meninggalkan puasa Ramadhan adalah kesalahan, seperti perempuan hamil yang merencanakan untuk tidak berpuasa Ramadhan, lalu sebelum Ramadhan atau pada awal Ramadhan, dia membayar fidyah untuk tiga puluh hari. Tentunya, hal ini adalah perkara yang salah karena kewajiban pembayaran fidyah dibebankan atasnya apabila ia telah meninggalkan puasa.

📜 Shalat Tarawih 4 Rakaat Langsung Bolehkah ?

Pertanyaan ❓

Assalamualaikum
Afwan, tanya ustadz.

*Mohon pencerahan & penjelasannya tentang solat sunah malam yang dikerjakan dengan 4 rokaat salamnya hanya sekali?*

Sebab selama ini yang saya pegang dalam ibadah sholat Sunnah di malam hari adalah  hadist sahih Bukhari & Muslim yaitu sholat Sunnah di malam hari adalah dua dua atau 2 rokat satu salam.
& Saya belum menemukan hadist shohih lain yang menerangkan Solat Sunnah di malam hari yaitu 4 rokaat salamnya sekali.
Sedangkan di bulan Romadhon tahun lalu saya diminta jadi imam sholat tarawih dengan jumlah 4 rokaat salamnya sekali.
Dalam hati saya merasa berdosa karena saya belum menemukan dasar sholat Sunnah 4 rokaat satu salam.
Sehingga di bulan Romadhon tahun ini saya ragu jika diminta jadi imam dengan bilangan rokaat 4 rokaat satu salam.
Biar tidak bimbang mohon penjelasannya ustadz.
Matur nuwun

Jawaban ✅

وعليكم السلام ورحمة الله و بركا ته

kaifiyyah shalat seperti itu shahih dicontohkan dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa :

مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا

“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah shalat di bulan Ramadlan maupun di bulan selainnya lebih dari sebelas raka’at. Beliau shalat empat raka’at, kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Setelah itu shalat empat raka’at dan kamu jangan menanyakan bagus dan panjangnya. Kemudian beliau shalat tiga raka’at” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 2013 dan Muslim no. 738].

Dhahir hadits ini menunjukkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat empat raka’at dengan satu salam. Inilah pendapat Abu Haniifah, sebagaimana disitir oleh Al-‘Iraaqiy rahimahumallah :

وَقَالَ أَبُو حَنِيفَةَ الْأَفْضَلُ أَنْ يُصَلِّيَ أَرْبَعًا أَرْبَعًا وَإِنْ شَاءَ رَكْعَتَيْنِ وَإِنْ شَاءَ سِتًّا وَإِنْ شَاءَ ثَمَانِيًا وَتُكْرَهُ الزِّيَادَةُ عَلَى ذَلِكَ

“Abu Haniifah berkata : “Afdlal-nya shalat malam empat raka’at empat raka’at. Apabila berkehendak, shalat 2 raka’at, apabila berkehendak shalat 6 raka’at, apabila berkehendak shalat 8 raka’at. Dan dimakruhkan menambah raka’at dari itu” [Tharhut-Tatsriib, 3/357].

Ash-Shan’aaniy rahimahullah berkata :

يحتمل أنها متصلات و هو الظاهر . ويحتمل أنها منفصلات و هو بعيد الا انه يوافق حديث : صلاة الليل مثنى مثنى

“Kemungkinan empat raka’at tersebut bersambung, dan inilah yang dhaahir. Dan kemungkinan juga dipisah, namun (kemungkinan) ini sangatlah jauh. Hanya saja ia sesuai dengan hadits : ‘shalat malam itu dua raka’at dua raka’at” [Subulus-Salaam, 2/19].

Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah berkata saat menjelaskan beberapa sifat shalat taraawiih dalam hadits-hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

يصلي 11 ركعة أربعا بتسليمة واحدة ثم أربعا مثلها ثم ثلاثا

“Shalat 11 raka’at, yaitu : empat raka’at dengan satu salam, empat raka’at semisalnya, lalu tiga raka’at” [Shalaatut-Taraawiih, hal. 91].

Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazmuul hafidhahullah berkata :

يشرع للمسلم أن يوتر بإحدى عشرة ركعة ، ويصليها على صفتين :
الأولى : أن يصلي مثنى مثنى عشر ركعات ثم يوتر بواحدة
الثاني : أن يصلي أربعاً أربعاً ثم يصلي ثلاثاً

“Disyari’atkan bagi muslim untuk shalat witir 11 raka’at, yang dapat dilakukan dengan dua sifat : (1) shalat dua raka’at dua raka’at sebanyak 10 raka’at, lalu shalat witir satu raka’at; (2) shalat empat raka’at empat raka’at, lalu shalat witir 3 raka’at”……. Lalu beliau menyebutkan hadits ‘Aaisyah di atas [Bughyatul-Mutathawwi’, hal. 60-61]

*Walhasil* shalat malam atau shalat tarawih 4 raka’at dengan satu salam adalah boleh dan sah. Jika dilakukan dua raka’at dua raka’at, afdlal.

Silahkan baca selengkapnya di website kami :

📁 asysyamil.com/shalat-tarawih-4-rakaat-dengan-1-salam-bidah-2/

والله تعالى أعلم

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮 Join Channel @RisalahRamadhan di Telegramhttps://goo.gl/elalbc
📮Join Channel @MuliaDenganSunnah
di Telegram : https://goo.gl/X2h0P7
📮Channel @MutiaraNasehatMuslimah_1 di Telegram : https://goo.gl/q61NKi
📮Channel @MutiaraNasehatMuslimah diTelegram : http://goo.gl/I4oFGI
🌐 Website : www.AsySyamil.com


📚   KUMPULAN TANYA JAWAB RAMADHAN  ◎❅{  EDISI – 6 }❅◎

📜 Dzikir Setiap Selesai 2 Rakaat atau 4 Rakaat Tarawih

Pertanyaan ❓

Adakah bacaan setiap selesai dari 2 atau 4 rakaat tarawih ?

Jawaban ✅

Doa Antara dan Setelah Shalat Tarawih

Adakah dzikir, doa, atau bacaan tertentu di antara shalat tarawih? Ada sebagian jama’ah yang mengamalkan bacaan antara duduk istirahat pada shalat tarawih selesai dua atau empat raka’at, “Asyhadu alla ilaha illallah, astaghfirullah, as-alukal jannah wa a’udzu bika minan naar.”

Perlu dipahami bahwa dzikir adalah bagian dari ibadah. Hukum asal ibadah adalah haram hingga datangnya dalil. Ada kaedah fikih yang cukup ma’ruf di kalangan para ulama,

الأَصْلُ فِي العِبَادَاتِ التَّحْرِيْمُ

“Hukum asal ibadah adalah haram (sampai adanya dalil).”

Diterangkan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid rahimahullah bahwa tidak boleh seseorang membuat dzikir-dzikir baru yang tidak dituntunkan yang dilakukan bersama ibadah baik dilakukan sebelum atau sesudahnya. Kita tahu bersama bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melakukan shalat malam bersama para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Lalu sahabat melakukan shalat malam tersebut sendiri-sendiri, ada pula yang berjama’ah, baik di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup atau telah meninggal dunia. Tidak diketahui kalau mereka ketika itu membaca dzikir-dzikir tertentu setiap salam dari shalat malam tersebut.

Tidak adanya nukilan dari para ulama di kalangan sahabat begitu pula ulama setelahnya untuk dzikir berjama’ah di antara raka’at-raka’at shalat tarawih menunjukkan bahwa dzikir seperti itu tidak ada. Karena dzikir seperti itu jika ada, akan diketahui terang-terangan oleh mereka. Kalau ada tuntunan, tentu akan sampai pada kita. Sebaik-baik cara beragama adalah mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk para sahabat. Ibadah yang mereka lakukan, kita lakukan. Yang mereka tinggalkan, kita pun meninggalkannya. (Fatwa Al-Islam Sual wa Jawab 50718)

Tambahan Faidah :

http://rumaysho.com/shalat/doa-antara-dan-setelah-shalat-tarawih-11319.html

📜 Tahajjud Setelah Tarawih
Pertanyaan ❓

Assalamualaikum ustad, mau tanya, apakah di bulan ramadhan masih ada sholat Sunat tahajjud ustad?

Jawaban ✅

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Ana bawakan  jawaban Syaikh Shalih bin Fauzan berikut ini :

ولو أن الإنسان صلى التراويح، وأوتر مع الإمام، ثم قام من الليل وتهجد؛ فلا مانع من ذلك، ولا يعيد الوتر، بل يكفيه الوتر الذي أوتره مع الإمام، ويتهجد من الليل ما يسر الله له، وإن أخر الوتر إلى آخر صلاة الليل، فلا بأس، لكن تفوته متابعة الإمام، والأفضل أن يتابع الإمام أن يوتر معه؛ لقوله صلى الله عليه وسلم : (( من قام مع الإمام حتى ينصرف ؛ كتب له قيام ليلة )) [1]، فيتابع الإمام، ويوتر معه، ولا يمنع هذا من أن يقوم آخر الليل ويتهجد ما تيسر له

Sekiranya ada seseorang yang telah sholat Tarawih dan berwitir bersama imam, kemudian dia melaksanakan sholat malam lagi atau tahajjud, maka hal ini tidak mengapa. Namun dia tidak usah mengulang witirnya, karena witirnya dengan imam (saat taråwîh) sudah mencukupinya. Dia boleh bertahajud lagi di malam harinya sesuai dengan yang Allah mudahkan baginya.
Apabila ia mengakhirkan witir pada akhir sholat malam juga tidaklah mengapa, namun dia kehilangan keutamaan sholat mengikuti imam. Yang lbh utama baginya adalah hendaknya ia mengikuti imam dan berwitir bersamanya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu alaihi wa Salam :
“Barangsiapa yang sholat bersama imam hingga selesai, maka ditetapkan baginya pahala shalat malam (secara penuh).”
Maka hendaknya dia mengikuti imam dan berwitir bersama imam. Namun tidaklah mengapa jika ia melaksanakan sholat di malam harinya dengan tahajud.

🌐 Lihat : http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=148823

Wallåhu a’lam.

📜 Hukum Puasa Bagi Orang Gila dan Orang Pikun

Pertanyaan ❓

Bismillah.. Ust ana mau tanya.
Bagaimana hukumnya puasa bagi orang yang tidak normal at tidak waras atu pikun, apakah dia masih wajib puasa atau wajib membayar fidya.

Mohon penjelasanya ust beserta dalilnya..?

Jawaban ✅

🔎 Kewajiban puasa hanya Allah berikan untuk mukallaf, yaitu orang yang mendapat kewajiban syariat. Orang gila bukan termasuk mukallaf. Karena tidak berakal.

Oleh karena itu orang tidak berakal yang tidak berpuasa, tidak wajib fidyah, karena bukan mukallaf.

🔎 Demikan juga Orang tua yg sdh PIKUN menjadi gugur kewajibannya berpuasa di bulan Ramadhan, karena pd saat itu telah hilang darinya salah satu syarat wajibnya puasa, yaitu berakal. Di dlm hadits yg shohih, Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

رُفِعَ الْقَلَمُ عَنْ ثَلاَثَةٍ: عَنِ الْمَجْنُوْنِ حَتَّى يَفِيْقَ، وَعَنِ النَّائِمِ حَتَّى يَسْتَيْقِظَ، وَعَنِ الصَّبِيِّ حَتَّى يَحْتَلِمَ.

“Telah diangkat pena dari tiga golongan: dari orang gila sampai ia sadar, dari orang tidur hingga ia bangun, dan dari anak kecil hingga ia baligh.” Shahih: [Shahiih al-Jaami’ish Shaghiir 3514], Sunan at-Tirmidzi (II/102/693).

✍🏻 Dengan demikian, orang yg pikun tidak wajib puasa Ramadhan n tidak wajib pula membayar fidyah. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq

📜  Nishab Zakat Uang Tabungan

Pertanyaan ❓

Ijin bertanya Ust…. kalo kita punya tabungan. Apakah perhitungan nishob zakatnya seperti nishob emas?

Jawab :

Yang dijadikan patokan dalam zakat uang tabungan adalah nishâb emas, bukan perak.

*Di antara alasannya sebagai berikut* :

➡1. Nilai perak telah berubah setelah zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan zaman-zaman sesudahnya. Hal ini berbeda dengan emas yang nilainya terhitung stabil.

➡2. Jika disetarakan dengan nishâb emas, maka itu akan setara atau mendekati nishâb zakat lainnya seperti nishâb pada binatang ternak (onta, sapid an kambing, pent). Nishâb zakat onta adalah 5 ekor, nishâb pada zakat kambing adalah 40 ekor, dan yang semisalnya. [Lihat Shahîh Fiqhis Sunnah II/22].

Banyak para ulama muassirin dan pendapat ini dikuatkan oleh Baitul Mal Wattamwil di Kuwait berdasarkan muktamar internasional, bahwa yang di pilih untuk nishob adalah ukuran emas karena emas relatif lebih stabil dibandingkan perak.

 🔰 kami lebih cenderung dan memilih pendapat yang menggunakan standar nishâb emas untuk zakat mata uang (uang kertas)* karena alasannya yang begitu kuat. Demikian pula karena mengingat meningkatnya standar biaya hidup dan melonjaknya berbagai kebutuhan. [Lihat al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu karya Wahbah Az-Zuhaili, II/773].

Kesimpulan:

*Standar nishâb zakat uang tabungan adalah nishâb emas, yaitu 20 dinar atau 85 gram emas.*

Wallahu a’lam.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮 Join Channel @RisalahRamadhan di Telegramhttps://goo.gl/elalbc
📮Join Channel @MuliaDenganSunnah
di Telegram : https://goo.gl/X2h0P7
📮Channel @MutiaraNasehatMuslimah_1 di Telegram : https://goo.gl/q61NKi
📮Channel @MutiaraNasehatMuslimah diTelegram : http://goo.gl/I4oFGI
🌐 Website : www.AsySyamil.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here